Bebotoh dados, nanging sampunang momotoh
Tajen.
Dibalik nama yang pendek yang tertulis. Namun terkandung banyak unsur perdebatan di dalamnya. Tajen awalnya hanya sebuah tradisi tabuh rah yang di lakukan oleh leluhur umat hindu di daerah Bali, namun sekarang sudah di larang karena dalam tajen tersebut di kaitkan dengan judi di dalamnya.
Hingga munculah penggrebekan dan persepsi negatif tentang tajen tersebut.
Pengenalan singkat tentang
Sejarah Tajen di daerah Bali, Tajen adalah sebutan tabuh rah yang dapat diartikan meneteskan darah ke bumi yang merupakan bagian dari ritual bhuta yadnya sebagai salah satu simbol permohonan agar bhuta (pengaruh negatif) tidak mengganggu kehidupan manusia, dan terhindar dari marabahaya. Dulu tajen diadakan untuk memenuhi runtutan kegiatan upacara yadnya berupa tabuh rah tersebut, ada juga menggunakan media lain berupa tajen nyuh (kelapa) dan tajen taluh (telor), yang menggunakan media kelapa atau telor ayam.
Pergeseran nilai dari tajen atau tabuh rah tersebut kian terjadi hingga tajen sekarang banyak diadakan untuk kepentingan klompok tertentu, bukan untuk kepentingan upacara. Karena orang tertentu melirik hasil dari kegiatan judi tajen tersebut.
Masalah yang ditimbulkan pun semakin kompleks, karena maraknya judi tajen tersebut. Mulai dari masalah finansial, mental, hingga faktor lain yang menyebabkan permasalahan, misalkan saja pada rumah tangga.
Bebotoh begitulah sebutan untuk orang yang sering mengikuti kegiatan dalam tajen tersebut. Momotoh merupakan sebutan untuk bebotoh yang tidak mampu mengendalikan dirinya ketika perjudian hingga berujung menghasilkan efek negatif dalam setiap tindakannya. Momotoh ini yang kurang baik, momotoh itu merupakan gabungan dua buah kata yaitu momo dan toh, momo yaitu kegiatan atau sifat yang loba, dan toh adalah taruhan yang digunakan. Jadi momotoh itu merupakan sifat atau juga kegiatan orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya atau loba untuk melakukan taruhan dalam kegiatan judi tajen dan menghasilkan dampak negatif. Jika saja tajen dilakukan tanpa taruhan mungkin sampai saat ini tidak akan dilarang keberadaanya.
Maka dari itu sikapilah dengan bijak tajen tersebut sehingga tidak berdampak negatif dalam kehidupan dan untuk orang lain juga. Jangan hanya menilai tajen dari sisi buruknya, dan juga jangan menganggap tajen itu lahan untuk mencari uang. Tajen itu runtutan upacara yang sudah menjadi budaya sejak dulu, juga sebagai hiburan bukan berharap selalu menang dan mendapatkan rezeki dari kegiatan tersebut. Jangan sampai mendahulukan kepentingan untuk bertaruh dalam judi tajen dari pada kepentingan keluarga yang lebih bermanfaat.
Ingat
" Di Tajen Peluang Sugih Ade, Nanging Lacur Sube Pasti " dalam dunia judi tajen peluang untuk mendapat uang instan untuk menjadi orang kaya pasti ada, namun kemelaratan sudah pasti akan terjadi.
Mohon maaf apabila ada kesalahan kata-kata yang menyinggung pihak tertentu, ini hanya sebuah artikel yang sedikit tidaknya menggambarkan keadaan dalam dunia judi tajen saat ini, dan semoga bermanfaat untuk di baca. Jika anda sependapat bisa share artikel ini, dan juga apabila ada masukan silahkan bisa anda tulis di kolom comentar. Terimakasih